Pantai Air Panas
Di mana bumi bertemu waktu dalam ombak yang pecah
Keindahan yang melarat.
Pasir gurun yang berlubang.
Tebing yang memotong,
melemparkan sekilas malam,
dari dinding yang menjulang.
Aku meletakkan tanganku di bumi yang elastis
dan menyaksikan kristal meniup jejak-jejak pergi.
Angin dingin menyapuku;
sapuannya mencakar kulit kepalaku yang lelah.
Aku menancapkan jari-jari kakiku dalam-dalam,
bersandar ke langit.
Mengulurkan tanganku
untuk meraih jam pasir,
mengukur waktu dalam setiap ombak yang pecah.
A poem by Pemba Umoja