{"line1":"Dalam seribu malam","line2":"hanya mampu kuimpikan sebuah angan","line3":"tentang keindahan yang kita bagi malam ini","line4":"","line5":"dua jiwa, dua raga,","line6":"dua pengembara fana di atas bumi ini,","line7":"bersentuhan tangan dalam genggaman,","line8":"hati pada hati.","line9":"","line10":"Dengan segala bagian diri kita","line11":"terhubung","line12":"untuk segala masa","line13":"yang akan pernah berarti","line14":"atau membawa arti.","line15":"","line16":"Kini kuberbaring menantimu","line17":"untuk merasakan apa yang telah kita rasa","line18":"di dalam hati kita","line19":"","line20":"pada kulit kita,","line21":"di tangan kita,","line22":"pada perut kita,","line23":"di mata kita yang berpusar,","line24":"","line25":"dalam gerak","line26":"semesta kita.","seoTitle":"Menantimu — Sebuah Puisi tentang Ikatan Intim dan Cinta Abadi","seoDescription":"Sebuah puisi intim tentang ikatan transenden antara dua kekasih, di mana sentuhan dan jiwa menyatu melampaui waktu — oleh Pemba Umoja.","keywords":"puisi menantimu, puisi cinta intim, puisi ikatan abadi, puisi dua jiwa, puisi Pemba Umoja, puisi romantis"}