{"s1l1":"Aku mencintai manusia","s1l2":"dan aku mencintai cinta.","s2l1":"Hatiku tak terisi seperti mangkuk.","s2l2":"Ia mengembang seperti semesta tanpa akhir.","s3l1":"Penuh dengan bintang","s3l2":"yang menerangi langit malam.","s4l1":"Mungkin yang kita lihat","s4l2":"adalah diri kita.","s5l1":"Mungkin aku adalah sebuah semesta.","s5l2":"Mungkin kamu juga.","s6l1":"Mungkin aku adalah bintang di semestamu.","s6l2":"Kamu adalah bintang di semestaku.","s7l1":"Bersinar terang.","s7l2":"Dari kejauhan.","s8l1":"Memandangi bintang","s8l2":"Kerlip cinta.","s9l1":"Kita menggapai keduanya.","s9l2":"Ujung jari kita terjulur","s10l1":"namun tak pernah bersentuhan.","seoTitle":"Cahaya Bintang — Puisi tentang cinta, jarak, dan semesta dalam diri oleh Pemba Umoja","seoDescription":"Puisi kontemplatif tentang cinta sebagai pengembangan — setiap hati adalah semesta bintang yang menjangkau melintasi jarak. Oleh Pemba Umoja.","keywords":"puisi cahaya bintang, puisi tentang cinta dan jarak, puisi semesta, puisi cinta kontemplatif, puisi Pemba Umoja"}