{"line1":"Aku pasti tinggal di planet terindah","line2":"di alam semesta.","line3":"","line4":"Dia memintaku membandingkan satu keajaiban alam dengan yang lain—","line5":"gletser-gletser Patagonia dengan Iguazu.","line6":"","line7":"Beranikah aku membandingkan keindahan","line8":"mata kanannya dengan mata kirinya?","line9":"lekuk punggungnya dengan paha kirinya?","line10":"daun telinganya dengan jari kelingking kakinya?","line11":"","line12":"Siapalah aku hendak membuat penilaian seagung itu?","line13":"","line14":"Bagaikan tiap jari, tiap anggota badan, tiap serpihan raga","line15":"melekat pada kekasihku yang mesra—","line16":"setiap air terjun, setiap aliran sungai gunung,","line17":"setiap gletser, setiap gunung es yang terombang-ambing","line18":"membentuk raga dunia kita.","line19":"","line20":"Kepadanya, jawabanku hanyalah…","line21":"bahwa aku pasti tinggal di planet terindah","line22":"di alam semesta.","seoTitle":"Bandingkan? — Sebuah Puisi Merayakan Keindahan Dunia yang Tiada Tara","seoDescription":"Sebuah puisi yang menolak memeringkat keajaiban alam atau kecantikan kekasih, merayakan keutuhan dunia kita yang tak tertandingi — oleh Pemba Umoja.","keywords":"puisi perbandingan, puisi keindahan alam, puisi Patagonia, keindahan tiada tara, puisi Pemba Umoja, puisi alam romantis"}